Kamis, 01 Desember 2011

teori teori ekonomi


Teori Nilai Guna (utility) Kardinal

Tinjauan pustaka
Pendekatan teori tingkah laku konsumen dibagi menjadi dua yaitu teori nilai guna kardinal dan ordinal. Nilai guna (utility) kardinal adalah teori nilai guna yang subyektif. Teori nilai guna kardinal juga dapat dinyatakan secara kuantitatif, dimana konsumen akan memaksimalkan konsumsi atas barang yang dimilikinya. Konsumen akan menggunakan barng atau jasa semaksimum mungkin.
( Iskandar Putong, 2002)
  Total utility merupakan  suatu kepuasan total yang dinikmati atau diperoleh konsumen dalam mengkonsumsi menggunakan sejumlah barang atau jasa tertentu secara keseluruhan.
(Hardian Wijaya, 2001)
Pengguna atau konsumen selalu membuat pilihan- pilihan yang akan memberi mereka kepuasan yang paling besar. Mereka selalu berusaha untuk memaksimumkan nilai guna atau kepuasan secara keseluruhan dari suatu barang yang digunakannya.
(Hermann Heinrich Gossen,2002)
Daya guna suatu barang diukur dengan satuan barang atau utily, serta tinggi rendahnya nilai atau daya guna tersebut tegantung pada subyek atau pihak yang menilai. Semakin berguna suatu barang bagi seseorang maka akan semakin diminati. Sebaliknya, semakin rendah kegunaan suatu barang maka barang itu idak akan dinikmati oleh banyak orang.
(Joesron dan Fathurrozi, 2003)


Pembahasan
Teori perilaku konsumen yaitu teori yang menjelaskan tindakan konsumen dalam mengkonsumsi barang-barang,dengan pendapatan tertentu dan harga barang tertentu pula sedemikian rupa agar konsumen mencapai tujuannya.Tujuan konsumen untuk memperoleh manfaat atau kepuasan sebesar-besarnya dari barang-barang yang dikonsumsi (maximum satisfaction). Dan,teori ekonomi menganggap bahwa maximum satisfaction itu adalah tujuan akhir konsumen.
Teori ekonomi kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seorang dari mengkonsumsikan barang-barang dinamakan nilai guna atau untiliti.Kalau kepuasan itu semakin tinggi maka semakin tinggi nilai guna atau utilitinya terhadap konsumen.
Pendekatan ini dipopulerkan oleh ekonom beraliran subyektif seperti Gossen, Jevons dan Walras. Menurut pendekatan ini :
Ø  daya guna suatu barang diukur dengan satuan barang atau util, serta tinggi rendahnya nilai atau daya guna tersebut tegantung pada subyek atau pihak yang menilai,
Ø  semakin berguna suatu barang bagi seseorang maka akan semakin diminati.
Teori nilai guna(utility) kardinal pendekatannya antara lain, yang pertama adalah teori bersifat subyektif,dianggap manfaat yang diperoleh konsumen dapat dinyatakan secara kuantitatif dimana keseimbangan konsumen dalam memaksimumkan kepuasan atas konsumsi berbagai macam barang, dilihat dari seberapa besar uang yang digunakan untuk mendapatkan suatu barang. Besar kecilnya kepuasan yang diperoleh konsumen tergantung pada jenis barang dan jumlah barang,atau jasa yang dikosumsi.
Total utility adalah additive dan independen. Additive berarti daya guna sekumpulan barang adalah fungsi kuantitas dari masing-masing barang yang dikonsumsi. Independen berarti daya guna suatu barang tertentu tidak dipengaruhi oleh tindakan mengkonsumsi barang lain.
Pendekatan nilai guna (Untility) Kardinal atau sering disebut dengan teori nilai subyektif, yaitu dianggap manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan secara kuantitif / dapat diukur, dimana keseimbangan konsumen dalam memaksimumkan kepuasan atas konsumsi berbagai macam barang, dilihat dari seberapa besar uang yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan dari berbagai jenis barang akan memberikan nilai guna marginal yang sama besarnya. Oleh karena itu keseimbangan konsumen dapat dicari dengan pendekatan kuantitatif.
Para ahli ekonomi mempercayai bahwa utility merupakan ukuran kebahagian. Utility dianggap bahwa ukuran kemampauan barang / jasa untuk memuaskan kebutuhan. Besar kecilnya utility yang dicapai konsumen tergantung dari jenis barangdan jumlah barang atau jasa yang dikonsumsi.
Nilai guna (uility) dilakukan untuk mendapatkan suatu kepuasan terhadap suatu barang yang dikonsumsi, terhadap suatu barang yang dipakai atau digunakan oleh seorang konsumen. Setiap konsumen akan menggunakan barang atau jasa semaksimal mungkin. Supaya setiap barang memiliki nilai guna (utility) bagi konsumen dan konsumen akan memiliki kepuasan tersendiri dengan menggunakan barang tersebut.
Teori ekonomi kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seorang dari mengkonsumsikan barang-barang dinamakan nilai guna atau untiliti. Kalau kepuasan itu semakin tinggi maka semakin tinggi nilai guna atau untilitinya. Nilai guna dibedakan diantara dua pengertian:Nilai guna kardinal ada dua yaitu
1.Total utility
Adalah keseluruhan nilai guna (kepuasan) yang diperoleh seseorang sebagai akibat mengkonsumsi barang X.

2. Marginal utility
Adalah tambahan kepuasan yang diperoleh seseorang sebagai akibat dari menambah satu unit barang untuk memenuhi kepuasannya.
Daftar Pustaka
Ø  Rahardja, pratama (2004), Pengantar Ilmu Ekonomi, penerbit fakultas ekonomi universitas indonesia, Jakarta.
Ø  Putong iskandar (2002), Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro dan Makro, penerbit ghalia indonesia, Jakarta.
Ø  Joesron, Tati Suharti, Fathorrozi (2003), Teori Ekonomi Mikro , Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

 Teori nilai guna (utility) ordinal

Tinjauan pustaka
Menurut pendekatan teori nilai guna ordinal ini, daya guna suatu barang tidak perlu diukur, cukup untuk diketahui dan konsumen mampu untuk membuat rangking daya guna yang diperoleh dengan mengkonsumsi sekelompok barang. Dalam analisisnya pendekatan ordinal ini menggunakan metode-metode indefference curve, budget line, price consumption, kurva Angel, income and substitution effect, elasticity, inferior and giffent goods.
(Joesron dan Fathurrozi, 2003:

Penilaian secara teori nilai guna(utility) ordinal dinilai cukup mewakili watak ekonomi masyarakat Indonesia yang dalam hal ini masyarakat kelas menengah kebawah dengan penghasilan ekonomi yang hanya cukup untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan menge-nyampingkan kebutuhan sekunder. Dengan cara kepentingan primernya dipenuhi terlebih dahulu.
(Siswono, Budi Harjo, 2003)

Konsumen atau pengguna cukup mengetahui barang atau jasa yang disediakan dan secara tidak langsung konsumen dapat mengukur dan memberi penilaian terhadap barang atau jasa yang akan dikonsumsinya.
(Hardian Wijaya, 2008)
Pembahasan

Teori nilai guna merupakan teori dalam ilmu ekonomi yang membahas tentang kepuasan konsumen terhadap suatu barang atau jasa. Teori ini dapat dibagi menjadi dua yaitu teori nilai guna kardinal dan nilai guna ordinal. Dalam pembahasan kali ini akan membahas tentang nilai guna (utility) ordinal.
Pendekatan nilai guna(utility) ordinal yang sering juga disebut analisis Kurva indeference, manfaat yang diperoleh masyarakat dari mengkonsumsikan barang-barang tidak kuantitif atau tidak dapat diukur .
Pendekatan ini muncul karena adanya keterbatasan - keterbatasan yang ada pada pendekatan kardinal, meskipun bukan berarti pendekatan kardinal tidak memiliki kelebihan. Menjelaskan tindakan konsumen dalam mengkonsumsi barang-barang yang harganya tertentu dengan pendapatan konsumen yang tertentu pula agar konsumen mencapai tujuannya (maximum utility) .
Pendekatan ini diperkenalkan oleh J.Hicks dan R.J Allen. Menurut pendekatan ini, daya guna suatu barang tidak perlu diukur cukup untuk diketahui dan konsumen mampu untuk membuat rangking daya guna yang diperoleh dengan mengkonsumsi sekelompok barang. Dalam analisisnya pendekatan ordinal ini menggunakan beberapa metode. Metode yang niasanya digunakan antara lain :
·         indefference curve.
·         budget line.
·         price consumption.
·         kurva Angel.
Analisis nilai guna ordinal besarnya utility dapat dinyatakan dalam bilangan atau  angka. Analisis ordinal menggunakan analisis indifferent curve atau kurva kepuasan sama. Kegunaan dari teori nilai guna ordinal tidak dapat dihitung dan hanya dapat dibandingkan. Teori ini menggunakan kurve indeferen dan budget line.
Konsumen di dalam mengkonsumsi barang-barang untuk mencapai tingkat kepuasan yang maksimum dibatasi oleh jumlah penghasilan konsumen yang bersangkutan. Dengan demikian persoalan yang dihadapi konsumen adalah menentukan berapa banyak masing-masing barang harus dikonsumsi atau dibeli dengan penghasilannya, sehingga diperoleh tingkat kepuasan yang maksimum. Untuk analisis ini tidak cukup hanya dengan kurve kepuasan sama. Namun, perlu diketahui garis anggaran pengeluaran konsumen. Garis anggaran pengeluaran adalah tempat kedudukan titik-titik kombinasi barang-barang yang dapat dibeli dengan sejumlah penghasilan tertentu.
Indeferent curve merupakan suatu kurva tentang kesamaan kepuasan, merupakan kurva yang memberikan kombinasi yang memberikan kepuasan yang sama. Sedangkan budget line dalam nilai guna (utility) ordinal merupakan garis tentng suatu anggaran. Batasan (constrain) merupakan kemampuan konsumen. Jika konsumen ingin menggunakan semua anggaran yang tesedia harus sama dengan uang yang digunakan.  
Pendekatan nilai guna ordinal atau sering juga disebut analisis Kurva Indeference, yaitu manfaat yang diperoleh masyarakat dari mengkonsumsikan barang-barang tidak kuantitif atau tidak dapat diukur. Pendekatan ini muncul karena adanya keterbatasan - keterbatasan yang ada pada pendekatan kardinal, meskipun bukan berarti pendekatan kardinal tidak memiliki kelebihan. Menjelaskan tindakan konsumen dalam mengkonsumsi barang-barang yang harganya tertentu dengan pendapatan konsumen yang tertentu pula agar konsumen mencapai tujuannya (maximum utility) .
Pendekatan marginal utility, dinilai mempunyai kelemahan, karena menganggap nilai utiliti/kepuasan dapat diukur dengan angka-angka. Kepuasan adalah sesuatu yang tidak mudah diukur sehingga tidak mungkin diukur dengan angka. Untuk menghindari kelemahan itu Sir John R. Hicks mengembangkan pendekatan baru, yang dikenal dengan pendekatan kurve kepuasan sama (Indifference Curve).
Dalam pendekatan ini digunakan anggapan:
  • konsumen mempunyai pola preferensi terhadap barang-barang konsumsi (misalnya barang X dan Y) yang bisa dinyatakan dalam bentuk peta kurve kepuasan sama ( Indifference Curve Map) atau kumpulan dari kurve kepuasan sama;
  • konsumen mempunyai jumlah uang tertentu (= pendapatan tertentu) ; dan
  • konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan maksimum.

Kurve kepuasan sama adalah tempat kedudukan titik-titik kombinasi dua jenis barang yang dikonsumsi yang memberikan tingkat kepuasan yang sama kepada konsumen. Oleh karena itu untuk menggambarkan kurve kepuasan sama perlu dianggap bahwa seorang konsumen hanya mengkonsumsi dua jenis barang. Sebagai contoh, seorang konsumen dalam rangka memaksimumkan kepuasannya, membeli atau mengkonsumsi bahan makanan dan pakaian, dengan berbagai kombinasi
Daftar pustaka
·         Iskandar, putong (2002), Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro dan Makro, penerbit ghalia indonesia, Jakarta.
·         Hartono, Jogiyanto (2002), Teori Ekonomi Mikro, Analisis matematis, Penerbit Andi, Yogyakarta.
·         Joesron, Tati Suharti, Fathorrozi (2003), Teori Ekonomi Mikro , Penerbit Salemba empat, Jakarta.
·         Rahardja, pratama (2004), Pengantar Ilmu Ekonomi, penerbit fakultas ekonomi universitas indonesia, Jakarta.

 Teori produksi
Pembahasan
Produksi  merupakan Suatu kegiatan memproses input (faktor produksi) menjadi suatu output. Produsen dalam melakukan kegiatan produksi, mempunyai landasan teknis, yang didalam teori ekonomi disebut “fungsi produksi”.
Dalam teori ekonomi, setiap proses produksi mempunyai landasan teknis yang disebut fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang menunjukkan hubungan fisik atau teknis antara jumlah faktor-faktor produksi yang dipergunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu, tanpa memperhatikan harga-harga, baik harga faktor-faktor produksi maupun harga produk. Secara matematis fungsi produksi tersebut dapat dinyatakan:
Y = f (X1, X2, X3, ……….., Xn) ; dimana :
 Y = tingkat produksi (output) yang dihasilkan dan
 X= X1, X2, X3, ……, Xn adalah berbagai faktor produksi (input) yang digunakan. Fungsi ini masih bersifat umum, hanya bisa menjelaskan bahwa produk yang dihasilkan tergantung dari faktor-faktor produksi yang dipergunakan, tetapi belum bisa memberikan penjelasan kuantitatif mengenai hubungan antara produk dan faktor-faktor produksi tersebut.
Seorang produsen atau pengusaha dalam melakukan proses produksi untuk mencapai tujuannya harus menentukan dua macam keputusan:
Ø  berapa output yang harus diproduksikan, dan
Ø  berapa dan dalam kombinasi bagaimana faktor-faktor produksi (input)
Ø  dipergunakan.
Keuntungan yang maksimum dicapai apabila perbedaan antara hasil penjualan dan biaya rpoduksi mencapai tingkat yang paling besar. Masalah pokok yang harus dipecahkan produsen adalah :
Ø  Komposisi faktor produksi yang bagaimana perlu digunakan untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi. Sehingga perlu memperhatikan fungsi produksi, Teori Organisasi yaitu hubungan antara faktor-faktor produksi dan tingkat produksi yang diciptakannya.
Ø  Komposisi faktor produksi yang bagaimana meminimumkan biaya produksi yang dikeluarkan untuk mencapai satu tingkat produksi tertentu. Produsen perlu memperhatikan  :
·   Besarnya pembayaran kepada faktor produksi tambahan yang akan digunakan.
·   Besarnya pertambahan hasil penjualan yang diwujudkan oleh faktor produksi yang ditambah tersebut.
Faktor-faktor produksi yang tersedia dalam perekonomian akan menentukan sampai dimana suatu negara dapat menghasilkan barang dan jasa. Faktor produksi yang tersedia dalam perekonomian dibedakan dalam 4 jenis, yaitu :
·        Tanah dan Sumber Alam.
·        Tenaga kerja.
·        Modal.
·        Keahlian Keusahawanan (pengelolaan).

Dua faktor produksi yang dianggap variabel atau dapat diubah jumlahnya adalah tenaga kerja (L) dan modal (K). Dalam teori produksi diasumsikan juga, bahwa antara tenaga kerja dan modal dapat dipertukarkan penggunaannya satu sama lain. Modal dapat menggantikan tenaga kerja oleh tenaga kerja dapat menggantikan modal.
Jika upah tenaga kerja dan pembayaran per unit terhadap penggunaan modal diketahui, maka bagaimana caranya perusahaan meminimumkan  biaya dalam usahanya untuk menghasilkan output pada suatu tingkat tertentu dapat diketahui. Disamping itu, dengan sejumlah biaya tertentu bagaimana caranya perusahaan memaksimalkan output juga dilaksanakan. Sedangkan alat analisis yang digunakan untuk memenuhi maksud tersebut adalah dengan menggunakan “kurva isokuan” dan “garis isokos”.
       Isoquant menunjukkan kombinasi antara dua macam barang input yang berbeda yang menghasilkan output yang sama. Ciri – ciri isoquant diantaranya adlah sebagai berikut :

§  Mempunyai kemiringan negatif.
§  Semakin kekanan kedudukan isoquant menunjukkan semakin tinggi jumlah outputnya.
§  Isoquant tidak pernah berpotongan dengan isoquant yang lainnya.
§  Isoquant cembung ke titik origin.
Sedangkan isocost menunjukkan semua kombinasi dua macam barang input yang dibeli perusahaan dengan pengeluaran total dan harga faktor produksi tertentu.
Bentuk organisasi dalam perusahaan:
Ø  Perusahaan perorangan
Ø  Firma
Ø  Perseroan terbatas
Ø  Perusahaan negara
Ø  Koperasi
Beberapa pengertian penting dalam teori produksi adlah sebagai berikut:
ü  Produk total (total product) yaitu keseluruhan output yang dihasilkan dari hasil penggunaan sejumlah faktor produksi tertentu.
ü  Produk rata-rata (average product) yaitu produksi yang dihasilkan oleh satu orang tenaga kerja atau input variabel (AP = TP / L)
ü  Produk marginal (marginal product) yaitu tambahan produk yang diakibatkan oleh bertambahnya seorang tenaga kerja, dan sebaliknya (∆TP /∆L ) 

Teori produksi yang sederhana menggambarkan hubungan antara tingkat output yang dihasilkan dengan jumlah tenaga kerja (labor) yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Dalam analisis produksi dengan satu input variabel diasumsikan bahwa semua faktor produksi selain tenaga kerja (L) dianggap tetap. Sehingga fungsi produksi dengan satu input variabel :
Q = f (L).
Fungsi Produksi dengan Satu Input Variabel Tunduk pada “Law of Diminishing Return” yang menyatakan : bila satu macam input (labor) penggunaannya terus ditambah sebanyak satu unit, sedangkan input-input yang lain konstan, pada mulanya produksi total akan semakin banyak pertambahannya. Tetapi sesudah mencapai suatu tingkat tertentu produksi tambahan tersebut semakin menurun dan akhirnya mencapai nilai negatif. Keadaan ini akan menyebabkan produksi total semakin lambat pertambahannya, akhirnya ia mencapai tingkat maksimum dan kemudian menurun.
Dalam menganalisis bagaimana perusahaan melakukan kegiatan produksi, teori ekonomi membedakan jangka waktu analisis kepada dua jangka waktu : jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek apabila sebagian dari faktor produksi dianggap tetap jumlahnya. Didalam masa tersebut perusahaan tidak dapat menambah jumlah faktor modal seperti mesin-mesin dan peralatannya, alat-alat memproduksi lainnya, dan bangunan perusahaan. Dalam jangka panjang semua faktor produksi dapat mengalami perubahan, ini berarti bahwa dalam jangka panjang setiap faktor produksi dapat ditambah jumlahnya kalau memang hal tersebut diperlukan.Didalam jangka panjang perusahaan dapat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan yang berlaku di pasar. Jumlah alat-alat produksi dapat ditambah, penggunaan mesin-mesin dapat dirombak dan dipertinggi efisiensinya, jenis-jenis barang dapat diproduksi, dan teknologi produksi ditingkatkan.
Tahap tahap dalam teori produksi:
ü  Tahap I menunjukkan tenaga kerja yang masih sedikit, apabila ditambah akan meningkatkan total produksi, produksi rata-rata dan produksi marginal.
ü  Tahap II Produksi total terus meningkat sampai produksi optimum sedang produksi rata-rata menurun dan produksi marginal menurun sampai titik nol.
ü  Tahap III Penambahan tenaga kerja menurunkan total produksi, dan produksi rata-rata, sedangkan produksi marginal negatif.

Daftar pustaka
·        Iskandar, putong (2002), Pengantar Ilmu Ekonomi Mikro dan Makro, penerbit ghalia indonesia, Jakarta.
·        Rahardja, pratama (2004), Pengantar Ilmu Ekonomi, penerbit fakultas ekonomi universitas indonesia, Jakarta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar